PENA PERSAHABATAN

 

Tiwi kembali membuka ingatannya. Sheila. Manis nama itu, semanis orangnya. Dialah kawan karib Tiwi yang selalu hidup dalam ingatannya. Sudah enam tahun mereka mengenal satu sama lain. Kegembiraan dan keperihan hidup di alam remaja, mereka lalui bersama. Akan tetapi semua itu kini hanya tinggal kenangan. Tiwi kehilangan seorang sahabat yang tidak akan ada gantinya.

Peristiwa itu terjadi dua tahun yang lalu. Saat itu mereka sedang berada di teras depan kelas. Tiwi sedang marah kepada Sheila karena Sheila mengambil pena kesukaannya tanpa seizinnya dan kemudian menghilangkannya.

“Wi, ini aku ganti pena kamu yang aku hilangkan itu,” ucap Sheila dengan mengulurkan sebuah pena ke depan muka Tiwi yang sedang tertunduk.

“Loh, aku kan sudah bilang, aku nggak mau diganti, aku hanya ingin pena itu,” kata Tiwi dengan nada marah.

“Tapi aku nggak bisa menemukannya, aku sudah berusaha mencarinya.”

“Terserah, pokoknya selama kamu nggak bisa menemukan pena itu, aku tidak akan mau berbicara lagi denganmu!” Teriak Tiwi sambil berlalu meninggalkan Sheila. Tiwi tahu, Sheila pasti sangat sedih mendengar kata-kata yang dia ucapkan tadi, tapi Tiwi tidak bermaksud menyakiti Sheila, Tiwi saat itu terlalu marah, karena pena yang hilang itu sangat berarti untuk Tiwi, pena itu adalah hadiah dari Sheila saat mereka pertama kali menjadi sepasang sahabat. Kini jatuhlah air mata Tiwi.

Setelah waktu istirahat usai, Tiwi kembali ke kelas, dan ia melihat Sheila yang tertunduk di bangkunya. Tidak ada percakapan di antara mereka saat itu.

Saat kelas selesai, Tiwi langsung bergegas pulang.

Tiba-tiba, gerbang sekolah Tiwi dan Sheila dipenuhi oleh orang-orang yang ada disekitar sekolah itu. Melihat kerumunan orang, Sheila pun penasaran dan bergegas mendekati kerumunan tersebut.

“Tiwiiiii……….. Tiwiii…… Bangun Tiwi…” teriak Sheila sambil mengangkat kepala Tiwi yang berlumur darah. Sesaat setelah teriak, Sheila pun tak sadarkan diri.

☺☺☺

“Tiwi…… Tiwi…” teriak Sheila saat terbangun dari pinsannya.

“Sayang kamu bangun nak?” tanya mamah Sheila diiringi senyum.

“Mamah Tiwi dimana? Tiwi dimana?” tanya Sheila dengan isak.

“Tiwi ada, dia baik-baik saja,” jawab Mamah.

“Bohong, pokoknya aku mau lihat Tiwi Langsung.”

Tiwi bergegas turun dari tempat tidur, tetapi dia merasakan hal aneh pada kedua kakinya. Kedua kakinya terasa lemas dan kepalanya sangat pusing, ia pun tersungkur saat turun dari tempat tidur.

“Mamah ada apa dengan Sheila mah? Kenapa kaki Sheila lemas sekali, dan kepala Sheila sangat sakit.”

“Makanya istirahat saja, jangan dulu banyak gerak, kamu masih lemah,” jawab mamah bohong. Dalam hati mamah ia berdoa, Sheila anakku, sabar ya sayang, kau pasti akan sembuh.

Setelah beberapa hari, Sheila mengetahui bahwa Tiwi mengalami kebutaan setelah mengalami kecelakaan waktu itu dan hari itu juga ia diberitahu mamahnya bahwa ia menderita tumor ganas dan harus segera di operasi.

Hari operasi Sheila tiba, Sheila sangat takut sekali. Sebelum di operasi, Sheila menemui Tiwi, namun tak ada satu pu kata yang keluar dari mulut Sheila, dan bahkan Tiwi tidak mengetahui Sheila ada di depannya. air mata Sheila jatuh, lalu ia tersenyum ke arah Tiwi, dan ia pergi meninggalkan ruang rawat Tiwi.

☺☺☺

Lima jam telah berlalu, terlihat kecemasan meliputi diri mamah.

“Ya Allah kenapa operasinya lama sekali? Kuatkanlah anakku ya Allah, sembuhkanlah dia dan jangan ambil anakku satu-satunya Ya Allah,” mamah terus berdoa.

Mamah duduk di kursi tunggu dengan menundukan kepala dan terus berdoa, tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka,

“Dokter bagaimana anak saya dok?” Tanya mamah pada dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi.

Sang dokter hanya menatap mamah Sheila dengan tatapan penuh iba. Mamah pun bertanya lagi kepada dokter karena dokter tidak berkata apa-apa.

“Dokter bagaimana anak saya, dokter?” tanya mamah lagi dengan linangan air mata.

Akhirnya dokter pun berkata’ “Bu yang sabar ya, kami telah melakukan yang terbaik, namun semua itu kembali kepada Tuhan, mohon maaf ibu, anak ibu tidak bisa kami tolong.”

“Tidak mungkin dokter, anak saya pasti masih hidup, dia anak yang kuat dokter, anak saya pasti masih hidup..” ucap mamah setengah teriak dengan terus menangis.

“Sabar ya bu, kami telah berusaha, tetapi kehendak tetaplah ditangan Tuhan, mari bu jika ingin melihat Sheila,” ucap dokter dan dokter menemani mamah Sheila untuk melihat Sheila.

Saat melihat Sheila yang sudah terbujur kaku, tangis mamah pun makin tak bisa dibendung, dia peluk Sheila sambil terus berkata “Sheila kau pasti masih hidup, kamu kuat Sheila, knapa kamu tinggalin mamah Sheila..?” Kemudian mamah teringat pesan terakhir Sheila.

☺☺☺

Seorang dokter dan seorang suster masuk ke ruang rawat Tiwi,

“Pagi Tiwi? Bagaimana keadaanmu?” tanya dokter.

“Sangat baik dok, hari ini sudah bisa dibuka kan dok perbannya?” tanya Tiwi dengan perasaan tak sabar.

“Iya, sekarang saya akan membuka perban mata kamu,” kata dokter.

Satu perban telah dibuka, dan perban kedua pun juga telah dibuka,

“Ayo Tiwi buka mata kamu!” suruh dokter.

Dengan perlahan-lahan Tiwi membuka kedua matanya, awalnya samar dan lama-kelamaan menjadi jelas. Tiwi langsung teriak memanggil mamahnya dan memeluknya.

“Mah siapa yang telah mendonorkan matanya untukku?” tanya Tiwi.

“Seseorang yang sangat baik tentunya.” jawab mamah.

“Siapa mah? Tiwi ingin berteriakasih pada orang itu.”

Mamah Tiwi tidak menjawab pertanyaan Tiwi, ia menyodorkan sebuah surat yang tersampul rapih.

“Apa ini mah?” tanya Tiwi bingung.

“Bacalah, nanti kamu pasti tau siapa yang telah mendonorkan matanya untukmu,” jelas mamah.


TIWI RENATA
Aku minta maaaf kerana membuat kau marah kerana telah menghilangkan pena kesukaanmu. Untunglah aku bisa menemukannya dengan bantuan kiki, tapi saat aku hendak memberikannya padamu sepulang sekolah, kamu pergi keluar dengan terburu-buru dan setelah itu aku melihatmu bersimbah darah. Maafkan aku tidak bisa mengembalikan pena ini secara langsung, dan maaf ragaku kini sudah tidak bisa disampingmu lagi, tapi aku akan tetap bisa melihat indahnya dunia bersamamu. Terima kasih kerana telah menghargai pemberianku dan persahabatan yang terjalin selama ini. Terima kasih sekali lagi kerana selama ini mengajarku tenteng arti persahabatan. Jagalah mataku dan persahabatan ini.

SHEILA ZAHRA.

Kolam mata Tiwi dipenuhi mutiara jernih yang akhirnya jatuh berlinangan dengan derasnya. Kalau boleh, ingin dia meraung sekuat hatinya. Ingin dia memeluk tubuh Sheila dan memohon maaf padanya tapi apakan daya semuanya dah terlambat. Tiba-tiba dentuman guruh mengejutkan Tiwi dari lamunannya. Barulah dia sedar bahawa dia hanya mengenang kisah silam. Persahabatan mereka lebih berharga daripada pena itu. Misha benar-benar menyesal dengan perbuatannya. Dia berjanji akan menjaga pemberian yang sangat berharga dari sahabatnya yang embuat dia dapat kembali menikmati indahnya dunia. Semenjak itu Tiwi rajin berdoa dan melantunkan ayat-ayat al quran untuk sahabatnya. Hanya cara inilah Tiwi membalas segala kebaikan sahabatnya dan mengeratkan persahabatanya. Semoga dengan kalam Allah Sheila akan bahagia di alam barza.

Posted in My Art | Leave a comment

IPB my Campus

Inilah kampus dimana ku menuntut ilmu sebagai Mahasiswa

Posted in My Art | Leave a comment

Hello world!

Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!

Posted in Uncategorized | 1 Comment